Seperti matahari, ya
lebih kurang seperti itu pesan dari lirik di atas. Banyak sekali karya-karya
Bang Iwan yang mengubah sekaligus memberi inspirasiku dalam menjalani kehidupan
ini. Terutama dalam memaknai hidup ini yang amat sangat sarat akan subyektif.
Masing-masing orang mempunyai persepsi sendiri
bagaimana ia harus hidup dan menjalaninya sekaligus orientasinya. Dan kebetulan aku sependapat dengan mayoritas karya Bang Iwan.
pola pikir kita yang selalu dihantui untuk bagaimana biar keinginan itu bisa terwujud –bahkan sampai menggunakan cara yang sebenarnya tidak baik. Tidak perlu kuberikan contoh karena aku yakin sudah mengerti dengan melihat realitas yang ada di sekitar kita.
Tujuan bukan utama/yang utama adalah prosesnya. Begitu banyak orang yang mempunyai tujuan yang sangat baik, namun sedikit yang menggunakan proses yang baik pula. Banyak orang yang menghalalkan segala cara agar ia bisa mencapai tujuan itu sendiri, tak peduli
curang, culas, dan bahkan sampai membunuh satu dengan yang lain. Sebaik apapun tujuan, bila tidak dibarengi dengan proses yang baik, maka seperti halnya tingkah hewan. Secara tidak langsung manusia sendirilah yang merendahkan derajatnya sebagai manusia.
Kita hidup mencari bahagia/Harta dunia kendaraannya/Bahan bakarnya budi pekerti/Itulah nasehat para Nabi. Tidak ada orang yang bertujuan ingin hidup susah, tidak ada. Secara universal manusia ingin mencapai kebahagiaan –tentu dengan cara dan pemaknaan kebahagiaan itu juga amat sangat
relatif/nisbi. Kita hidup di dunia, maka dunia itu kita jadikan sebagai kendaraan. Selaras dengan hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa “Dunia adalah ladangnya akhirat”. Tentu tidak semata-mata dengan kendaraan itu kita bisa bahagia, masih ada yang namanya budi pekerti/akhlak
/moral/etika, dsb. Manusia bisa dianggap manusia bila ia mempunyai akhlak, orang tidak akan dinaikkan derajatnya bila akhlaknya tidak ada. Nabi pernah bersabda “Manusia adalah hewan yang berakal”. Hadits Qudsi juga ada “Tidak lain Aku mengutus Kau (muhaammad) untuk menyempurnakan akhlak”
kita garisbawahi bahwasannya kita hidup tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Jalan menuju ke akhirat itu melalui dunia, dunia kita jadikan sebagai kendaraan untuk mencapai dan menuju akhirat, tentu dengan akhlak yang baik dalam merengkuh kebahagiaan dunia.
balasan yang Allah berikan kepada kita bila mampu memberikan sesuatu kepada orang lain. Pada jelas Allah berfirman di QS, al An’am: 160. “Barang siapa yang mendatangkan satu kebajikan, maka
baginya balasan 10 kali lipat dari kebajikan itu. Dan barang siapa mendatangkan keburukan maka
baginya balasan yang sesuai dengan keburukan itu.”
Namun kita terlampau sering hanya memercayai sesuatu yang sudah ada di depan
mata, dan manusia memang sulit untuk percaya, karena sudah tidak kontrol lagi dengan makhluk
Allah yang bernama nafsu. Kita percaya bahwa Allah tidak mungkin mengingkari janji, namun
bagaimana ia harus hidup dan menjalaninya sekaligus orientasinya. Dan kebetulan aku sependapat dengan mayoritas karya Bang Iwan.
Keinginan adalah
sumber penderitaan/tempatnya di dalam pikiran. Keinginan, tentu bukan semua
keinginan adalah sumber penderitaan, karena ada juga keinginan-keinginan
positif yang justru
menjadikan kita semangat, namun pada kalimat di atas, lebih
pada
keinginan yang berujung nafsu. Kita –atau bila kurang tepat yaitu aku
sendiri- terlalu sering dihantui oleh keinginan-keinginan yang sebenarnya tidak
begitu kita butuhkan, sehingga keinginan itu mengubah dan memengaruhi sistem
pola pikir kita yang selalu dihantui untuk bagaimana biar keinginan itu bisa terwujud –bahkan sampai menggunakan cara yang sebenarnya tidak baik. Tidak perlu kuberikan contoh karena aku yakin sudah mengerti dengan melihat realitas yang ada di sekitar kita.
Tujuan bukan utama/yang utama adalah prosesnya. Begitu banyak orang yang mempunyai tujuan yang sangat baik, namun sedikit yang menggunakan proses yang baik pula. Banyak orang yang menghalalkan segala cara agar ia bisa mencapai tujuan itu sendiri, tak peduli
curang, culas, dan bahkan sampai membunuh satu dengan yang lain. Sebaik apapun tujuan, bila tidak dibarengi dengan proses yang baik, maka seperti halnya tingkah hewan. Secara tidak langsung manusia sendirilah yang merendahkan derajatnya sebagai manusia.
Kita hidup mencari bahagia/Harta dunia kendaraannya/Bahan bakarnya budi pekerti/Itulah nasehat para Nabi. Tidak ada orang yang bertujuan ingin hidup susah, tidak ada. Secara universal manusia ingin mencapai kebahagiaan –tentu dengan cara dan pemaknaan kebahagiaan itu juga amat sangat
relatif/nisbi. Kita hidup di dunia, maka dunia itu kita jadikan sebagai kendaraan. Selaras dengan hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa “Dunia adalah ladangnya akhirat”. Tentu tidak semata-mata dengan kendaraan itu kita bisa bahagia, masih ada yang namanya budi pekerti/akhlak
/moral/etika, dsb. Manusia bisa dianggap manusia bila ia mempunyai akhlak, orang tidak akan dinaikkan derajatnya bila akhlaknya tidak ada. Nabi pernah bersabda “Manusia adalah hewan yang berakal”. Hadits Qudsi juga ada “Tidak lain Aku mengutus Kau (muhaammad) untuk menyempurnakan akhlak”
kita garisbawahi bahwasannya kita hidup tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Jalan menuju ke akhirat itu melalui dunia, dunia kita jadikan sebagai kendaraan untuk mencapai dan menuju akhirat, tentu dengan akhlak yang baik dalam merengkuh kebahagiaan dunia.
Ingin bahagia, derita didapat/Karena ingin sumber
derita/Harta dunia jadi
penggoda/Membuat miskin jiwa kita. Manusia itu tidak akan pernah ada puasnya dengan
apa yang dimilikinya. Itu apabila manusia tidak bisa mengontrol nafsunya,
karena manusai telah diperbudak oleh nafsu tersebut. Semakin manusia merasa
ingin, maka di situlah kemiskinan.
Orang miskin itu bukan ia yang kekurangan harta,
namun ia yang tidak bisa mensyukuri nikmat Allah yang tak terbatas untuk
makhluk-Nya. Semiskin apapun harta seseorang, bila ia
merasa syukur, maka
kemiskinan itu tidak ada arti baginya, karena ia percaya bahwa Allah tidak akan
pernah mendholimi makhluk-Nya sendiri.
Ada benarnya nasehat orang-orang suci/Memberi itu
terangkan hati/Seperti matahari yang
menyinari bumi. Ada kalimat yang sering kudengar dari temanku,
“jangan pernah berpikir apa yang bisa kudapatkan dari orang lain, tapi
berpikirlah tentang apa yang belum kuberikan untuk orang lain”. Jujur, memang
sulit untuk memberikan sesuatu yang kita punya kepada orang lain, jangankan
orang lain, kerabat dekat kita saja terkadang kita masih merasa eman-eman. Kita
masih meragukan balasan yang Allah berikan kepada kita bila mampu memberikan sesuatu kepada orang lain. Pada jelas Allah berfirman di QS, al An’am: 160. “Barang siapa yang mendatangkan satu kebajikan, maka
baginya balasan 10 kali lipat dari kebajikan itu. Dan barang siapa mendatangkan keburukan maka
baginya balasan yang sesuai dengan keburukan itu.”
Namun kita terlampau sering hanya memercayai sesuatu yang sudah ada di depan
mata, dan manusia memang sulit untuk percaya, karena sudah tidak kontrol lagi dengan makhluk
Allah yang bernama nafsu. Kita percaya bahwa Allah tidak mungkin mengingkari janji, namun

















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar